Jumat, 28 November 2014

Ocehan Rempong

Berawal Dari Hobi Menjadi seorang penulis bukanlah cita-citaku, aku bisa dikatakan sebagai seorang penulis karna menulis adalah hobi yang aku gemari dari kecil, entah berupa puisi mengarang cerita atau komik yang alakadarnya, tapi dari hobi yang aku geluti, aku mulai tertarik dan ingin mempunyai buku sendiri yang bisa dinikmati banyak pembaca. Dari masa sekolah, setelah aku mengenal media cetak, berupa majalah, tabloid dan koran, aku mencoba memberanikan diri mengirimkan karya tulisanku, beberapa ada yang diterbitkan, dan tak sedikit yang ditolak dan diabaikan. Dari situ aku tak henti terus menulis dan menulis, hingga jaman mulai canggih, ada sosial media yang dengan gampang bisa menyalurkan hobiku ini, mengikuti lomba penulisan online, berteman dengan para penulis, bergabung digrup penulisan, serta penerbit. Aku masih terus menggali kemampuan aku menulis, dan mencari gerne apa yang pas buat aku tulis. Aku bangga mempunyai hobi yang bisa tersalurkan dan aku bisa menerbitkan karya pribadiku. Sebuah antologi cerpen komedi, bergenre teenlit yang bejudul IDIOTisME. Mungkin buku itu hanyalah sebuah sampah bagi mereka penggemar novel berselera tinggi, tapi selera pembaca memang berbeda, siap menerima cacian tentang karya sampahku, dan bangga menerima pujian yang menjadi tanggung jawabku untuk menjadi penulis yang konsisten serta berusaha memberi yang terbaik untuk seterusnya

Senin, 24 November 2014

Attack My Self

Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Tak sadarkah jika kita itu egois, apatis, sulit memaafkan dan keras kepala? Itulah kita, kalau kita mau maju dan bekembang jadi lebih baik, buanglah jauh sikap itu dari diri kita, kalau masih belum mampu singkirkan perlahan, dengan cara sedikit legowo terhadap kejadian yang tak sesuai yang kita mau, hdiup itu tak semudah membalikkan telapak tangan, memaafkan kesalahan orang, meminta maaf, dan mengucap teima kasih, itu adalah hal kecil yang sangat berpengaruh besar dalam kehidupan kita, dalam interaksi antar sesama. Perangi sifat-sifat yang lekat dalam diri kita: *Egois: Selalu mau menang sendiri dan menganggap dirimu itu benar? Sikap itu yang sering dibenci orang, dan sadarkah orang yang membenci mempuyai sikap yang sama? Sebelum nge-judge orang kita intospeksi dulu, mau mendengarkan, saling berbagi dan respect sama lingkungan, mengalah demi kabaikan, perlahan sikap egois agan hilang dari diri kita. *Apatis: Hindarilah sikap acuh, tak peduli, masa bodoh dan cuek terhadap keluarga, sesama teman, tetangga, sosial, atau kehidupan fisik, ingat bahwa kita hidup dalam lingkungan sosial, kita dibutuhkan dan membutuhkan orang lain sebagai pelengkap kita, jika kita masih masa bodoh, cuek dan tidak peduli, kita akan dijauhin orang dan selalu diasingkan, mulailah tanggap dan sigap terhadap apapun, karna saling memahami dan mengerti akan memudahkan kita bersosialisasi *Sulit memaafkan: apa seorang jika ada kesalahan sedikitpun tanpa disengaja, kita tak mau memaafkan dan tak mau mendengar alasannya? Itu hal yang sangat salah, manusia itu tempatnya khilaf, selalu lupa dan sering salah, wajarkan? Kitapun demikian, tapi krisisnya kesadaran dalam diri kita, dan merasa kitalah yang benar. Yakin lah jika kita memaafkan kesalahan orang sekecil apapun, ada rasa lega terhadap batin kita. *Keras Kepala: pernah dijuluki sebagai kepala batu atau manusia batu? Mungkin diri kita yang teguh akan kemauan dan pendirian kita, seakan apa yang kita yakini dan kita jalani itu benar, tanpa mau mendengarkan saran dan kritik orang lain, tak mau mengubah kehendak, dan tidak mau menuruti nasehat orang. Kita mungkin sering menasehati orang, tapi sebelum menasehati orang lain kita harus belajar menerima nasehat. Hal yang saya uraikan diatas juga terjadi dalam diri saya, maka bercermin pada diri sendiri, dan merubah pola pikir serta sifat negatif dalam diri itu memang sulit, karna kita belum terbiasa. Tapi melakukan semua itu dengan perlahan, dan dijalani dengan ikhlas, yakin pasti kita bisa

Minggu, 23 November 2014

plesir

Aneka Kuliner Khas Dari Kota Minyak, Cepu Jawa Tengah Merantau di Ibu kota hal yang dirindukan selain rumah dan kebersamaan bersama keluarga adalah makanan khas daerah kita. Yups, itu yang saya alami, merindukan makanan khas tempat tinggal saya, Cepu Jawa Tengah, ada banyak makanan khas didaerah tersebut diantaranya ada Egg Roll Waluh, Ledre Pisang, Serabi Ketan, Tempe Penyet dan Kopi Kothok. Biasanya saya sering kumpul bersama teman-teman menikmati Tempe penyet dan Kopi kohtok dilesehan pinggir jalan. Deretan warung-warung tenda lesehan yang menjual aneka kuliner dapat dengan mudah saya jumpai di sana. Dan macam-macam kuliner khas Cepu tak kalah dengan kuliner daerah lain. Kota cepu mungkin kecil dan sederhana, kota yang terkenal dengan sebutan kota minyak ini, menyimpan banyak aneka kuliner. Dari sekian jenis kuliner yang disajikan, menu “penyet-penyetan” sepertinya menjadi menu utama yang ada di masing-masing warung tenda pinggir jalan dan Taman Seribu Lampu(taman warga kota Cepu). Tinggal rasa dan selera saja yang akan menentukan, mana warung tenda lesehan yang akan disasar para penikmat kuliner. Dikota lain seperti menu sambal, lalapan, beraneka lauk sepeti lele, ikan, ayam, bebek sudah menjamur, tapi didaerah Cepu khasnya adalah tempe, tempe goreng tidak terlalu kering, sambel berbahan mentah diuleg, lalu disiram dengan minyak panas campuran terasi, kemudian tempe gorengnya dipenyet bersama sambel, penyajiannya dipiring cobek, dialasi daun pisang, ditambah lalapan seperti kol, daun kemangi, mentimun, dan yang paling khas adalah cambah tholo(tauge). Selain tempe lauk pelengkap lain ada lele juga ayam kampung serta entok. Satu porsi tempe penyet beserta nasi dibandrol harga 6.000 rupiah saja, sangat ekonomis, dan rasanya pun bikin 'moweh-moweh'(kepedesan). Selain itu lesehan itu juga menjual Serabi Ketan, satu porsi serabi ketan berisi sepasang serabi dan ketan, dengan pelengkap parutan kelapa serta sambel pencok. Sambel pencok adalah kedelai sangrai yang ditumbuk kasar bersama cabe, bawang, gula dan garam. Rasa pedas, asin dan manisnya pas memanjakan lidah. Hanyut dalam makanan pembuka dan makanan utamanya, kita hampir melupakan satu menu minuman wajib, yaitu kopi kothok, kalau di Jogja terkenal dengan kopi joss, di Cepu terkenal dengan kopi kothok,. Kopi kothok secara dimensi visual, wedang (Jawa: minuman yang disajikan panas-panas atau hangat) ini tidak terlalu istimewa. Berwarna hitam dan terlihat panas. Menahan hangatnya si hitam pahit manis. Entah rasa apa, saya sendiri selalu gagal mendefinisikan. Mungkin bagi lidah awam yang tidak biasa minum kopi, rasanya tidak lebih dari kopi seduh kebanyakan. Hanya berupa gula dan kopi biasa, manis, pahit, dan hangat. Tapi jika mau meresapi sejenak, berbeda sekali. Yang membedakan kopi kothok dengan kopi seduh biasa hanyalah pada proses pembuatannya. Kalau biasanya kopi dibuat dengan menuangkan air panas ke dalam gelas yang berisi gula dan bubuk kopi kemudian disajikan, tidak demikian dengan kothok. Kopi kothok dibuat dengan merebus gula, bubuk kopi dan air dalam satu panci bersamaan hingga mendidih hingga buihnya keluar dari panci dan hampir tumpah. Terang saja rasanya berbeda. Dan diberi nama kopi kothok karena pembuatannya dengan cata dikothok(mengaduk kopi dalam panci yang berbunyi 'othok-othok') Pengalaman menarik tentang kopi kothok ini sering saya jumpai. Beberapa teman bahkan orang lain di sekitar saya biasanya kembung jika meminum kopi seduh. Aneh sekali. Entahlah, tapi beda jika meminum kopi khotok, sama sekali tak merasakan kembung, biasanya secangkir kopi dihargai 3000 rupiah saja. Dan saking cintanya para pemuda nongkrong menikmati kopi sambil menikmati indahnya Taman Seribu Lampu, sampai dibikin kaos berlogo 'Kopi Kothok Wong Cepu'. Menikamati malam dengan ramainya pengunjung serta alunan gitar para pengamen jalanan yang menyanyikan tembang campursari,sangat membuat rindu. Biasanya sepulang menikamati kuliner tak lupa mampir ke pusat oleh-oleh, banyak berjajar toko oleh-oleh khas Cepu, ada Ledre Pisang Raja dan Egg Roll Waluh. Semua hand made asli kota Cepu.